Skip to main content

#Mencallmethings: Identitas dan Perbedaan di Ranah Maya

Sisi Lain (Negatif) Budaya Partisipasi Online; Gender Based Trolling, Homophobia, Rasisme, dan Cyber-Bullying

          Masih seputar penggunaan teknologi informasi dan komunikasi. Saat ini, kemudahan ditawarkan berbagai media sosial sangat user-friendly dan disesuaikan dengan kebutuhan dan keinginan dari banyak penggunanya. Kehadiran media sosial yang bisa kita sesuaikan sesuka hati membuat beberapa pihak memanfaatkan hal tersebut lebih kearah perilaku negatif. Sebagai contoh saja, kemudahan dalam membuat akun facebook dan instagram tanpa mempersulit pendaftar membuat pengguna seenaknya saja membuat akun palsu. Lebih parahnya akun palsu tersebut digunakan untuk memenuhi hawa nafsunya dalam mem-bully dan bertindak kasar di ranah online kepada orang lain. Hal ini biasa terjadi pada kalangan muda maupun tua, hal yang mereka lakukan adalah membuat akun anonim lalu memfollow orang-orang disekitarnya maupun selebritis, mereka melakukan ini hanya untuk sekedar mendapatkan kepuasan dengan cara mem-bully orang lain.


          Internet melahirkan media sosial dimana setiap orang bisa berbagi, berpendapat, dan menyampaikan ide. Tapi ada sisi gelapnya yaitu perilaku menindas dari internet. Perempuan, remaja, dan partisan kelompok politik adalah kelompok rentan bully di media sosial. Hal itu terjadi karena penampilan fisik, kehidupan pribadi, dan sebagainya. Namun, Jika dilihat dari berbagai data, mayoritas dari korban cyber-bullying adalah para perempuan. Kebanyakan perempuan direndahkan dengan disertai atribut seksual atau referensi lain untuk tujuan menghina.
          Jenis-jenis kekerasan di ranah online antara lain; Doxing (mempublikasikan data personal orang lain), Cyber-Stalking, Revenge Porn (penyebaran foto/video dengan tujuan balas dendan dengan disertai intimidasi/pemerasan). Tujuan kekerasan di ranah online tersebut juga selain menebarkan kebencian, tetapi juga untuk pemerasan, pembungkaman, dan ekspolitasi seksual yang berdampak menimbulkan rasa takut dan trauma dan akhirnya akan berorientasi pada kekerasan secara fisik.

          Teori Komunikasi: Online Disinhibition Effect menjelaskan bahwa fenomena bullying di ranah maya disebabkan karena berbagai faktor diantaranya, anonimitas, ketidaktampakkan, minimnya otoritas, dan tidak adanya tatap muka. Empat hal inilah yang melahirkan budaya kebencian di internet. Seseorang bisa berkomentar semaunya, memaki, dan tidak memiliki adab. Mereka merasa bahwa dengan mem-bully seseorang di ranah maya dengan menggunakan akun anonim maka akan memberikan kepuasan tersendiri.

          Sampai detik ini kekerasan di internet khususnya terhadap perempuan masih terus terjadi akibat kemudahan dalam mengakses media sosial, hal ini juga masih belum diperhatikan secara serius bagi sebagian besar orang. Beberapa menganggap kekerasan online sebagai candaan belaka dan dianggap sebagai sesuatu yang wajar. Padahal kekerasan di internet (cyber-bullying) bukanlah sekadar kekerasan yang dapat ditolerir dan tidak berdampak apa-apa, akan tetapi cyber-bullying merupakan perpanjangan dari kekerasan fisik yang sudah ada.
         Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi selain membawa kebermanfaatan bagi industri mapun individu dan masyarakat, ternyata membawa peran yang cukup negatif dalam pemanfaatannya. Gerakan #MenCallMeThings yang diprakarsai oleh seorang feminist blogger, Sandy Doyle mengajak seluruh korban cyber-bullying khususnya perempuan untuk berani bersuara. Doyle mengajak untuk berani bercerita dan mengungkap identitas pelaku. Ya, semoga kita sebagai generasi millenial bisa lebih bijak dalam menggunakan media sosial.

Referensi:
     Evan, Karalee. 2011. Men Call Me Things: It's Not as Romantic as it Sounds. The Drum, 11 November.
     Filipovic, J. 2007. Blogging While Female: How Internet Misogyny Parallels. Yale Journal of Law and Feminism. p 295-304.
     Thorpe, Vanessa. 2011. Women Bloggers Call for a Stop to Hateful Trolling by Misogynist Men. The Guardian, Sunday 6 November.

Comments

Popular posts from this blog

Produsage, Towards a Broader Framework for User-Led Content Creation: Seputar Jurnalisme Warga dan Kecerdasan Kolektif

Produsage dan Pengaruhnya pada Perkembangan Dunia Jurnalistik                    Melalui tulisan yang sudah saya publikasikan beberapa waktu lalu, kita sepakat bahwa adanya konvergensi media telah melahirkan pola atau role audiens menjadi prosumer . Hal ini dikarenakan akses dan praktik media yang user-generated content . Lalu, Axel Bruns (2008) telah mengkaji lebih dalam mengenai prosumer ini, ia mengembangkan fenomena ini dengan istilah produsage . Produsage berasal dari kata production dan usage yang berarti pembangunan kolaboratif dan berkesinambungan serta terus menerus pada konten demi pengembangan lebih lanjut. Axel Bruns dalam jurnalnya yang berjudul "Produsage, Towards a Broader Framework for User-Led Content Creation" menjelaskan bahwa produsage menitikberatkan pada platform dimana sebuah kreasi dan konsumsi saling berkombinasi. Pengguna media bukan hanya sebagai konsumer akan tetapi seseorang yang berkreasi membuat konten...

Rip/Mix/Burns: Munculnya Budaya Remix

                     Halo Pembaca! Kembali lagi di blog kecil-kecilan saya mengenai ulasan teknologi informasi dan masyarakat. Bagaimana dengan video mashup diatas? Pastinya lagu-lagu yang diputarkan dalam video tersebut merupakan lagu popular dari artis di 2016. Video mashup yang dirilis di YouTube ini merupakan sebuah kompilasi berbagai lagu yang diolah menjadi sebuah video yang satu dengan menyisipkan sedikit potongan lagu tersebut. Hal ini biasa kita kenal dengan remix . Contoh tersebut memang merupakan bentuk media remix . Lalu sebenarnya apa sih pengertian remix itu sendiri?           Menurut Lessig Lawrance (2008) dalam bukunya, ia mengatakan bahwa " Remix is an essential act of RW (Read-Write) creativity ". Terdapat istilah  RW (Read-Write), Lalu sebenarnya apa maksud dari istilah tersebut? Dalam teorinya, ia mengidentifikasikan dua bentuk budaya dalam bermedia, pertama RO Culture (Read-On...

Tuturan Antar Media (Transmedia Narrative): Antara Budaya Blockbuster dan Muatan Lokal

Transmedia Storytelling dan Strategi Pemenangan Jokowi-Ahok pada Pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2012           Alhamdulillah, tulisan kali ini tidak membahas mengenai konvergensi media. Hehehehe, walaupun mungkin dalam praktiknya masih ada kaitannya dengan hal tersebut. Ya, Transmedia Storytelling atau Transmedia Narrative. Transmedia? Apa itu? Perusahaan media yang dikelola oleh CT? Storytelling? Sebuah pertunjukkan untuk menampilkan cerita? Lho, bukan ternyata. Lalu apa sebenenarnya Transmedia Storytelling itu?           Transmedia Storytelling, mungkin istilah ini belum begitu familiar dan mungkin sebagian besar masyarakat Indonesia belum paham akan arti dari kata tersebut. Tapi kita sebagai objek industri media ternyata pernah menikmati produk transmedia storytelling tersebut secara tidak sadar. Sebut saja mengenai film Star Wars. Para penggemar Star Wars telah melalui lintas generasi sejak film ini diliris pertama kali pada 25...