Skip to main content

Rip/Mix/Burns: Munculnya Budaya Remix

          
          Halo Pembaca! Kembali lagi di blog kecil-kecilan saya mengenai ulasan teknologi informasi dan masyarakat. Bagaimana dengan video mashup diatas? Pastinya lagu-lagu yang diputarkan dalam video tersebut merupakan lagu popular dari artis di 2016. Video mashup yang dirilis di YouTube ini merupakan sebuah kompilasi berbagai lagu yang diolah menjadi sebuah video yang satu dengan menyisipkan sedikit potongan lagu tersebut. Hal ini biasa kita kenal dengan remix. Contoh tersebut memang merupakan bentuk media remix. Lalu sebenarnya apa sih pengertian remix itu sendiri?
          Menurut Lessig Lawrance (2008) dalam bukunya, ia mengatakan bahwa "Remix is an essential act of RW (Read-Write) creativity". Terdapat istilah RW (Read-Write), Lalu sebenarnya apa maksud dari istilah tersebut? Dalam teorinya, ia mengidentifikasikan dua bentuk budaya dalam bermedia, pertama RO Culture (Read-Only) dan kedua adalah RW Culture (Read-Write)RW (Read-Write) dalam pengertian remix berarti individu terhubung dengan budaya mereka dengan mendengar dan menginterpretasi, tetapi koneksi yang terlibat lebih dari itu, individu dapat menciptakan kembali suatu kebudayaan dari apa yang ia dengar/baca. Sedangkan RO Culture (Read-Only) diartikan masyarakat hanya dapat membaca suatu kebudayaan tanpa dapat menciptakan kembali budaya tersebut. Nah, contoh dari RW Culture (Read-Write) adalah video mashup diatas
          Hadirnya remix tersebut merupakan contoh dari RW Culture (Read-Write). Kehadiran RW Culture (Read-Write) ini memang hasil dari sebuh proses teknologi. Perkembangan teknologi informasi khususnya untuk membuat konten menjadikan kreativitas masyarakat terbangun dalam membuat sebuah karya baru. Hal seperti ini masih berkaitan dengan produsage dan prosumerism, dimana kemajuan teknologi telah mengubah khalayak dalam hal partisipasinya dari khalayak pasif menuju khalayak aktif. Mengenai produsage dan prosumerism telah dibahas pada tulisan saya sebelumnya.
          Jika dilihat lagi mengenai RW Culture (Read-Write) dan RO Culture (Read-Only), RO Culture (Read-Only) maka istilah merujuk pada kondisi dimana hubungan teknologi dan mayarakat masih bersifat analog. Sedangkan RW Culture (Read-Write) kebalikannya yaitu bersifat digital. Dahulu kala, saat teknologi dan industri media masih bersifat analog, khalayak hanya dapat menikmati media tanpa bisa memproduksinya kembali. Sebagai contoh RO Culture (Read-Only dalam industri musik, dahulu masyarakat eropa menikmati hiburan musik melalui music hall/opera house/folk music atau membeli musik sheet. Lalu kehadiran phonograph pada tahun 1877, lahirnya musik rekaman satu pintu pada awal abad 20. Pada contoh tersebut menandakan bahwa pada saat itu industri memiliki power dalam memproduksi dan khalayak hanya sebagai penikmat saja tanpa memiliki kemampuan membuat konten kembali. Namun dengan kehadiran web 2.0 semua seakan bias dan tidak ada batas antara produsen dan konsumen, semua bisa membuat dan menkolaborasikan sebuah konten dan didistribusikannya kepada khalayak.
          Perlu kita ketahui bersama bahwa budaya remix bukan hanya ada pada musik saja, melainkan terjadi pada media lain seperti buku, novel, film, dan sebagainya. Menurut Lessig sendiri inti dari remix adalah membuat sesuatu yang baru dengan penggalan dari sesuatu yang lama, seperti contohnya adalah mashup diatas. Salah satu contoh remix lainnya adalah dalam film La La Land (2017). Pada film tersebut banyak terdapat adegan yang bisa dikatakan mirip dengan adegan film lainnya, namun pada film La La Land semuanya digabung menjadi sesuatu yang baru. Apakah hal ini terkena copyright? Remix akan tetap terkena copyright kecuali jika karya yang digunakan merupakan Creative Common

Referensi:
Bruns, Axel. 2010. Distributed Creativity: Filesharing and Produsage Lessig
Lawrence. 2008. Remix; Making Art and Commerce Thrive in The Hybrid Economy. Pp.23-31

Comments

Popular posts from this blog

Produsage, Towards a Broader Framework for User-Led Content Creation: Seputar Jurnalisme Warga dan Kecerdasan Kolektif

Produsage dan Pengaruhnya pada Perkembangan Dunia Jurnalistik                    Melalui tulisan yang sudah saya publikasikan beberapa waktu lalu, kita sepakat bahwa adanya konvergensi media telah melahirkan pola atau role audiens menjadi prosumer . Hal ini dikarenakan akses dan praktik media yang user-generated content . Lalu, Axel Bruns (2008) telah mengkaji lebih dalam mengenai prosumer ini, ia mengembangkan fenomena ini dengan istilah produsage . Produsage berasal dari kata production dan usage yang berarti pembangunan kolaboratif dan berkesinambungan serta terus menerus pada konten demi pengembangan lebih lanjut. Axel Bruns dalam jurnalnya yang berjudul "Produsage, Towards a Broader Framework for User-Led Content Creation" menjelaskan bahwa produsage menitikberatkan pada platform dimana sebuah kreasi dan konsumsi saling berkombinasi. Pengguna media bukan hanya sebagai konsumer akan tetapi seseorang yang berkreasi membuat konten...

Tuturan Antar Media (Transmedia Narrative): Antara Budaya Blockbuster dan Muatan Lokal

Transmedia Storytelling dan Strategi Pemenangan Jokowi-Ahok pada Pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2012           Alhamdulillah, tulisan kali ini tidak membahas mengenai konvergensi media. Hehehehe, walaupun mungkin dalam praktiknya masih ada kaitannya dengan hal tersebut. Ya, Transmedia Storytelling atau Transmedia Narrative. Transmedia? Apa itu? Perusahaan media yang dikelola oleh CT? Storytelling? Sebuah pertunjukkan untuk menampilkan cerita? Lho, bukan ternyata. Lalu apa sebenenarnya Transmedia Storytelling itu?           Transmedia Storytelling, mungkin istilah ini belum begitu familiar dan mungkin sebagian besar masyarakat Indonesia belum paham akan arti dari kata tersebut. Tapi kita sebagai objek industri media ternyata pernah menikmati produk transmedia storytelling tersebut secara tidak sadar. Sebut saja mengenai film Star Wars. Para penggemar Star Wars telah melalui lintas generasi sejak film ini diliris pertama kali pada 25...